Pengertian dan Definisi Kurikulum
Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum.
Menurut George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa . Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan.
Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
1.kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya
dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2.kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai
suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan; bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
3.kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai
suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.
4.kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu
kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan
perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian :
(1) kurikulum sebagai ide; (2) kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum; (3) kurikulum menurut persepsi pengajar; (4) kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas; (5) kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan (6) kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.
Menurut Hilda Taba ,1962,Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah
Menurut Beane, dkk (1986) menyatkan bahwa; Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.
Menurut Bobbit, kurikulum merupakan suatu naskah panduan mengenai pengalaman yang harus didapatkan anak-anak agar menjadi orang dewasa yang seharusnya. Oleh karena itu kurikulum merupakan kondisi ideal dibandingkan kondisi real. Kurikulum diibaratkan sebagai “jalur pacu” atau “kendaraan” untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan.
Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (outcomes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran. Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Menurut Grundy, S (1987) kurikulum merupakan program aktivitas guru dan murid yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa-siswa akan mencapai sebanyak mungkin tujuan akhir kegiatan pendidikan atau sekolah. Kurikulum bukan hanya susunan sederhana mengenai perencanaan yang akan diimplementasikan, namun juga terdiri dari proses yang aktif terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling berhubungan timbal balik dan terintergrasi sebagai suatu proses.
Awalnya kurikulum diterapkan dalam konsep sekolah atau pendidikan formal (Smith, M.K., 1987). Dalam pendidikan formal, kurikulum biasanya disusun oleh pemilik otoritas, misalnya National Curriculum for England untuk negara Inggris dan Departmen Pendidikan Nasional di Indonesia. Saat ini kurikulum juga juga digunakan dalam setting pendidikan informal, seperti kursus. Kurikulum dalam setting informal disusun oleh lembaga tersebut sesuai kebutuhan. Kurikulum memiliki fungsi strategis dalam pendidikan, walaupun bukan satu-satunya perangkat tunggal penjabaran strategi pendidikan. Fungsi kurikulum dalam peningkatan mutu pendidikan dan penjabaran visi tergantung dari kecakapan guru, ketercakupan substansi kurikulum, dan evaluasi proses belajar (Agus Suwignyo dalam Forum Mangunwijaya, 2007).
Dalam perspektif kebijakan Pendidikan Nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
BNSP (2006) mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Pendapat kelompok, Kurikulum adalah rencana atau tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan.
Selasa, 09 Februari 2010
PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT
A. Upaya Menawarkan Solusi terhadap Berbagai Problem Sosial
Pendidikan merupakan tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Idonesia. Pendidikan menjadi sarana bagi pembentukan intelektualitas, bakat, budi pekerti/aklak serta kecakapan peserta didik. Atas pertimbangan inilah selayaknya semua pihak perlu memberikan perhatian secara maksimal terhadap bidang pendidikan. Perhatian tersebut antara lain direalisasikan melalui kerja keras secara kontinyu dalam memperbaharui dan meningkatkan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu. Melalui cara demikian, pendidikan diharapkan mampu menjawab aneka macam kebutuhan, tuntutan dan permasalahan yang tengah dihadapi oleh masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini.
Pendidikan di masa depan dituntut untuk lebih dekat lagi dengan realitas dan permasalahan hidup yang tengah menghimpit masyarakat. Ungkapan School is mirror society (sekolah adalah cerminan masyarakat) seyogyanya benar-benar mewarnai proses pendidikan yang sedang berlangsung. Sebagai konsekwensinya, lembaga pendidikan harus ikut berperan aktif dalam memecahkan problem sosial.Komitmen dan concern terhadap pemecahan problem sosial seperti itu seharusnya menjadi bagian dari visi dan misi dunia pendidikan nasional. Bahkan lembaga pendidikan nasional semakin dituntut untuk lebih melipat gandakan komitmen sosiologisnya mengingat kompleksitas permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia saat ini sepertinya telah kehilangan karakter yang telah dibangun berabad-abad. Keramahan, tenggang rasa, kesopanan, rendah hati, suka menolong, solidaritas sosial dan sebagainya yang merupakan jatidiri bangsa seolah-olah hilang begitu saja. Di lain pihak, warga masyarakat belakangan ini juga dicemaskan oleh maraknya kasus penyalahgunaan narkoba. Ironisnya, penyalahgunaan narkoba telah merambah ke lembaga sekolah dan perguruan tinggi dengan melibatkan para pelajar dan mahasiswanya. Permasalahan ini tentu saja menuntut kesadaran kolektif dari lembaga pendidikan dibantu orang tua peserta didik, aparat keamanan, aparat penegak hukum dan komponen-komponen masyarakat lain untuk mengatasinya.
Selain narkoba, warga masyarakat juga sering dipusingkan dengan kasus tawuran pelajar. Tawuran telah menjadi fenomena musiman bagi para pelajar yang terjadi pada tiap awal tahun pelajaran, menjelang akhir pembelajaran atau di sela-sela itu. Oleh karena itu, perlu pemahaman intensif terhadap akar penyebab munculnya tawuran pelajar sehingga dapat dilakukan penanganan secara cepat.Fenomena merosotnya kualitas moral bangsa indonesia tampaknya telah menggugah kesadaran bersama perlunya memperkuat kembali dimensi moralitas bangsa, diantaranya dengan mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan akhlak/budi pekerti secara optimal dibandingkan sebelumnya. Diasumsikan, dengan bekal pendidikan akhlak/budi pekerti yang cukup, peserta didik akan memiliki daya tahan (resistensi) secara moral dalam menghadapi godaan, residu dan pengaruh negatif dari kehidupan modern.
Namun yang perlu diingatkan, keberhasilan proses pembelajaran budi pekerti/akhlak di sekolah mempersyaratkan adanya dukungan dari institusi di luar sekolah. Dalam hal ini orang tua, lingkungan masyarakat dan media masa harus memberikan ruangan kondusif bagi proses penanaman dan pembentukan budi pekerti. Termasuk juga tayangan televisi harus bermuatan edukatif sehingga dapat memupuk tumbuhnya nilai-nilai budi pekerti/akhlak di kalangan anak-anak dan remaja. Di lain pihak, Bangsa Indonesia yang bersifat multikultur hingga kini masih dibayangi aneka macam konflikyang bernuansa SARA. Untuk mengantisipasinya tentu saja membutuhkan sebuah paradigma pendidikan multikultural, yaitu sebuah paradigma pendidikan yang melembagakan filsafat pluralisme budaya dalam sistem pendidikan dengan mengedepankan prinsip persamaan, saling menghargai, menerima dan memahami serta adanya komitmen moral terhadap keadilan sosial.
Kompleksitas permasalahan yang kita hadapi sudah sepatutnya menjadi bagian dari pertimbangan dalam menata dunia pendidikan nasional. Oleh karena itu, pendidikan yang kita laksanakan harus merespon dinamika yang terjadi di masyarakat. Lembaga pendidikan harus mempersiapkan dan membekali anak didik dengan cara berpikir kreatif dan antisipatif dalam menghadapi perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi. Pendidikan dituntut kinerjanya dalam mempersiapkan kompetensi akademik, profesional, nilai dan sikap serta menghadapi perubahan di kalangan peserta didik secara seimbang.
Peluang pendidikan untuk mengakomodasikan tuntutan masyarakat kini semakin terbuka lebar. Hal ini dikarenakan telah berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini diyakini dapat mengembangkan kemampuan peserta didik secara komprehensif baik dalam aspek logika, estetika, etika dan kinestika. Peluang masyarakat untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya juga kian tersedia seiring semakin dipahaminya konsep pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education). Bahkan model pendidikan berbasis masyarakat yang esensinya adalah pendidikan non formal telah diakui keberadaannya dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 26 ayat 1 s/d 7. Atas dasar ini, keberadaan pendidikan berbasis masyarakat seperti model pendidikan kaderisasi yang dilakukan di lingkungan Muhammadiyah tidak dapat diabaikan.
B. Pendidikan Berbasis Masyarakat
1. Seharusnya setiap upaya pendidikan dibasiskan pada masyarakat yang dilayaninya
2. Mencabut basisnya, pendidikan tersebut akan kehilangan relevansi
3. Menkotakkannya dalam sebuah “jalur” bisa misleading
4. Untuk indonesia yang majemuk, pendidikan yang tidak berbasis masyarakat tidak saja tidak relevan, tapi juga membahayakan eksistensi bangsa ini, karena mengingkari keragamannya
5. Tidak formalistik, tidak berorientasi gelar, berorientasi kompetensi, lentur/luwes,The founding fathers, dan pewarna sejarah indonesia modern bukanlah produk sekolah formal, namun merupakan produk pendidikan berbasis masyarakat.
Sekolah dijauhkan dari masyarakatnya :
1. Tidak dibiayai dengan memadai
2. Guru bukanlah profesi yang menarik bagi mereka yang paling berbakat
3. Dalam praktek dikelola masih secara sentralistik
4. Prakarsa lokal mati
5. Pendidikan dan sekolah tidak relevan : urbanisasi sbg. Bukti
C. Partisipasi Masyarakat
Dibalik otonomi dan kebebasan yang dimiliki, kepada guru diberikan target yang harus dicapai sebagai standar keberhasilan. Sudah barang tentu target tersebut adalah keberhasilan untuk semua peserta didik tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi yang dimiliki, mencapai prestasi pada tingkat tertentu. Target bisa dikembangkan pada berbagai skop sekolah. Dengan adanya target sebagai standar, masyarakat bisa ikut mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan.
Terbukanya kesempatan bagi masyarakat dan orangtua peserta didik untuk mengevaluasi proses pendidikan, memungkinkan munculnya partisipasi masyarakat sekitar dan khususnya orangtua peserta didik dalam menyelenggarakan pendidikan. Misalnya, sekolah bisa mengundang orangtua dan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan dan operasionalisasi kegiatan sekolah. Orangtua dan masyarakat sekitar yang mampu bisa diajak untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pendidikan. Dengan demikian, pada level makro, secara nasional bisa dilaksanakan realokasi anggaran pembangunan pendidikan. Anggaran pendidikan pemerintah yang terbatas hanya diarahkan pada sekolah-sekolah yang memiliki peserta didik dengan latar belakang yang kurang mampu. Sedangkan bagi sekolah-sekolah yang peserta didiknya terdiri dari orangtua berlatar belakang sosial ekonomi relatif kaya, diharapkan bisa self-supporting dalam pembiayaan sekolah.
Bahkan tidak hanya masyarakat sekitar, karena target dan standar yang harus memiliki skop regional dan daerah, maka pemerintah daerah akan secara langsung terlibat dalam menyukseskan pendidikan di wilayah masing-masing. Diharapkan pemerintah setempat bisa mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung pencapaian target pendidikan tersebut. Misalnya, pemerintah kelurahan menetapkan "jam belajar" bagi anak usia tertentu. Pada jam-jam tersebut anak-anak tidak boleh bermain. Dengan kata lain pelayanan kemasyarakatan perlu dikaitkan dengan proses pendidikan. Kepada setiap sekolah dan guru diberikan kebebasan apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Yang penting adalah pencapaian target yang telah ditentukan, dengan kata lain proses pendidikan bersifat product oriented, berlawanan process oriented, yang dilakukan sekarang ini. Untuk mencapai target yang telah ditentukan kepada guru perlu diberikan insentif dan sekaligus sanksi. Insentif diberikan kepada guru yang berhasil melampaui target yang telah ditentukan. Sebaliknya, sanksi diberikan kepada guru yang melakukan tindak kecurangan, misalnya mengubah, menambah atau memalsu nilai hasil pembelajaran peserta didik.
Sumber Referensi :
Zubaedi, Dr. 2004. Pendidikan Berbasis Masyarakat, Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
A. Upaya Menawarkan Solusi terhadap Berbagai Problem Sosial
Pendidikan merupakan tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Idonesia. Pendidikan menjadi sarana bagi pembentukan intelektualitas, bakat, budi pekerti/aklak serta kecakapan peserta didik. Atas pertimbangan inilah selayaknya semua pihak perlu memberikan perhatian secara maksimal terhadap bidang pendidikan. Perhatian tersebut antara lain direalisasikan melalui kerja keras secara kontinyu dalam memperbaharui dan meningkatkan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu. Melalui cara demikian, pendidikan diharapkan mampu menjawab aneka macam kebutuhan, tuntutan dan permasalahan yang tengah dihadapi oleh masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini.
Pendidikan di masa depan dituntut untuk lebih dekat lagi dengan realitas dan permasalahan hidup yang tengah menghimpit masyarakat. Ungkapan School is mirror society (sekolah adalah cerminan masyarakat) seyogyanya benar-benar mewarnai proses pendidikan yang sedang berlangsung. Sebagai konsekwensinya, lembaga pendidikan harus ikut berperan aktif dalam memecahkan problem sosial.Komitmen dan concern terhadap pemecahan problem sosial seperti itu seharusnya menjadi bagian dari visi dan misi dunia pendidikan nasional. Bahkan lembaga pendidikan nasional semakin dituntut untuk lebih melipat gandakan komitmen sosiologisnya mengingat kompleksitas permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia saat ini sepertinya telah kehilangan karakter yang telah dibangun berabad-abad. Keramahan, tenggang rasa, kesopanan, rendah hati, suka menolong, solidaritas sosial dan sebagainya yang merupakan jatidiri bangsa seolah-olah hilang begitu saja. Di lain pihak, warga masyarakat belakangan ini juga dicemaskan oleh maraknya kasus penyalahgunaan narkoba. Ironisnya, penyalahgunaan narkoba telah merambah ke lembaga sekolah dan perguruan tinggi dengan melibatkan para pelajar dan mahasiswanya. Permasalahan ini tentu saja menuntut kesadaran kolektif dari lembaga pendidikan dibantu orang tua peserta didik, aparat keamanan, aparat penegak hukum dan komponen-komponen masyarakat lain untuk mengatasinya.
Selain narkoba, warga masyarakat juga sering dipusingkan dengan kasus tawuran pelajar. Tawuran telah menjadi fenomena musiman bagi para pelajar yang terjadi pada tiap awal tahun pelajaran, menjelang akhir pembelajaran atau di sela-sela itu. Oleh karena itu, perlu pemahaman intensif terhadap akar penyebab munculnya tawuran pelajar sehingga dapat dilakukan penanganan secara cepat.Fenomena merosotnya kualitas moral bangsa indonesia tampaknya telah menggugah kesadaran bersama perlunya memperkuat kembali dimensi moralitas bangsa, diantaranya dengan mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan akhlak/budi pekerti secara optimal dibandingkan sebelumnya. Diasumsikan, dengan bekal pendidikan akhlak/budi pekerti yang cukup, peserta didik akan memiliki daya tahan (resistensi) secara moral dalam menghadapi godaan, residu dan pengaruh negatif dari kehidupan modern.
Namun yang perlu diingatkan, keberhasilan proses pembelajaran budi pekerti/akhlak di sekolah mempersyaratkan adanya dukungan dari institusi di luar sekolah. Dalam hal ini orang tua, lingkungan masyarakat dan media masa harus memberikan ruangan kondusif bagi proses penanaman dan pembentukan budi pekerti. Termasuk juga tayangan televisi harus bermuatan edukatif sehingga dapat memupuk tumbuhnya nilai-nilai budi pekerti/akhlak di kalangan anak-anak dan remaja. Di lain pihak, Bangsa Indonesia yang bersifat multikultur hingga kini masih dibayangi aneka macam konflikyang bernuansa SARA. Untuk mengantisipasinya tentu saja membutuhkan sebuah paradigma pendidikan multikultural, yaitu sebuah paradigma pendidikan yang melembagakan filsafat pluralisme budaya dalam sistem pendidikan dengan mengedepankan prinsip persamaan, saling menghargai, menerima dan memahami serta adanya komitmen moral terhadap keadilan sosial.
Kompleksitas permasalahan yang kita hadapi sudah sepatutnya menjadi bagian dari pertimbangan dalam menata dunia pendidikan nasional. Oleh karena itu, pendidikan yang kita laksanakan harus merespon dinamika yang terjadi di masyarakat. Lembaga pendidikan harus mempersiapkan dan membekali anak didik dengan cara berpikir kreatif dan antisipatif dalam menghadapi perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi. Pendidikan dituntut kinerjanya dalam mempersiapkan kompetensi akademik, profesional, nilai dan sikap serta menghadapi perubahan di kalangan peserta didik secara seimbang.
Peluang pendidikan untuk mengakomodasikan tuntutan masyarakat kini semakin terbuka lebar. Hal ini dikarenakan telah berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini diyakini dapat mengembangkan kemampuan peserta didik secara komprehensif baik dalam aspek logika, estetika, etika dan kinestika. Peluang masyarakat untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya juga kian tersedia seiring semakin dipahaminya konsep pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education). Bahkan model pendidikan berbasis masyarakat yang esensinya adalah pendidikan non formal telah diakui keberadaannya dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 26 ayat 1 s/d 7. Atas dasar ini, keberadaan pendidikan berbasis masyarakat seperti model pendidikan kaderisasi yang dilakukan di lingkungan Muhammadiyah tidak dapat diabaikan.
B. Pendidikan Berbasis Masyarakat
1. Seharusnya setiap upaya pendidikan dibasiskan pada masyarakat yang dilayaninya
2. Mencabut basisnya, pendidikan tersebut akan kehilangan relevansi
3. Menkotakkannya dalam sebuah “jalur” bisa misleading
4. Untuk indonesia yang majemuk, pendidikan yang tidak berbasis masyarakat tidak saja tidak relevan, tapi juga membahayakan eksistensi bangsa ini, karena mengingkari keragamannya
5. Tidak formalistik, tidak berorientasi gelar, berorientasi kompetensi, lentur/luwes,The founding fathers, dan pewarna sejarah indonesia modern bukanlah produk sekolah formal, namun merupakan produk pendidikan berbasis masyarakat.
Sekolah dijauhkan dari masyarakatnya :
1. Tidak dibiayai dengan memadai
2. Guru bukanlah profesi yang menarik bagi mereka yang paling berbakat
3. Dalam praktek dikelola masih secara sentralistik
4. Prakarsa lokal mati
5. Pendidikan dan sekolah tidak relevan : urbanisasi sbg. Bukti
C. Partisipasi Masyarakat
Dibalik otonomi dan kebebasan yang dimiliki, kepada guru diberikan target yang harus dicapai sebagai standar keberhasilan. Sudah barang tentu target tersebut adalah keberhasilan untuk semua peserta didik tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi yang dimiliki, mencapai prestasi pada tingkat tertentu. Target bisa dikembangkan pada berbagai skop sekolah. Dengan adanya target sebagai standar, masyarakat bisa ikut mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan.
Terbukanya kesempatan bagi masyarakat dan orangtua peserta didik untuk mengevaluasi proses pendidikan, memungkinkan munculnya partisipasi masyarakat sekitar dan khususnya orangtua peserta didik dalam menyelenggarakan pendidikan. Misalnya, sekolah bisa mengundang orangtua dan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan dan operasionalisasi kegiatan sekolah. Orangtua dan masyarakat sekitar yang mampu bisa diajak untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pendidikan. Dengan demikian, pada level makro, secara nasional bisa dilaksanakan realokasi anggaran pembangunan pendidikan. Anggaran pendidikan pemerintah yang terbatas hanya diarahkan pada sekolah-sekolah yang memiliki peserta didik dengan latar belakang yang kurang mampu. Sedangkan bagi sekolah-sekolah yang peserta didiknya terdiri dari orangtua berlatar belakang sosial ekonomi relatif kaya, diharapkan bisa self-supporting dalam pembiayaan sekolah.
Bahkan tidak hanya masyarakat sekitar, karena target dan standar yang harus memiliki skop regional dan daerah, maka pemerintah daerah akan secara langsung terlibat dalam menyukseskan pendidikan di wilayah masing-masing. Diharapkan pemerintah setempat bisa mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung pencapaian target pendidikan tersebut. Misalnya, pemerintah kelurahan menetapkan "jam belajar" bagi anak usia tertentu. Pada jam-jam tersebut anak-anak tidak boleh bermain. Dengan kata lain pelayanan kemasyarakatan perlu dikaitkan dengan proses pendidikan. Kepada setiap sekolah dan guru diberikan kebebasan apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Yang penting adalah pencapaian target yang telah ditentukan, dengan kata lain proses pendidikan bersifat product oriented, berlawanan process oriented, yang dilakukan sekarang ini. Untuk mencapai target yang telah ditentukan kepada guru perlu diberikan insentif dan sekaligus sanksi. Insentif diberikan kepada guru yang berhasil melampaui target yang telah ditentukan. Sebaliknya, sanksi diberikan kepada guru yang melakukan tindak kecurangan, misalnya mengubah, menambah atau memalsu nilai hasil pembelajaran peserta didik.
Sumber Referensi :
Zubaedi, Dr. 2004. Pendidikan Berbasis Masyarakat, Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
isteri Sekolah Bertaraf Internasional
Munculnya wacana sekolah nasional bertaraf internasional (SNBI) banyak mengundang rasa ingin tahu masyarakat. Sebenarnya jenis sekolah apa SNBI itu? Di samping belum jelasnya pemahaman masyarakat utamanya orang tua siswa tentang konsep rancangan SNBI, juga belum ada pemaparan oleh pihak dinas pendidikan secara proaktif membeberkan sekolah jenis tersebut.
Dengan adanya monopoli informasi di pihak lembaga pendidikan atau sekolah dan jajaran Diknas tentang konsep SNBI, maka hanya merekalah yang memahami konsep sekolah tersebut. Sebaliknya, dengan minimnya informasi di pihak masyarakat tentang konsep SNBI, maka akan muncul permasalahan ketidaktahuan secara konseptual yang tergambarkan dalam segala kebijakan (policy) dalam sekolah. Di sinilah sebenarnya ada krisis pemahaman yang diakibatkan oleh asimetri informasi (information asymmetry) antara pihak lembaga pendidikan termasuk jajaran Diknas dan masyarakat atau orang tua siswa.
Sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita betapa berbahayanya asimetri informasi jika terjadi pada kehidupan, baik sosial, politik, dan ekonomi apalagi bidang pendidikan yang objeknya langsung publik atau orang tua. Publik yang menjadi salah satu stakeholders dari institusi pendidikan sering dijadikan objek penderita. Jika instansi pendidikan tidak menyadari akan bahayanya asimetri informasi maka mereka akan menjadi sasaran dampak asimetri itu sendiri.
Keluhan masyarakat merupakan indikasi sebagai ungkapan ketidakpuasan akibat kebijakan yang diambil dalam instansi tersebut. Seperti yang terjadi di Probolinggo ada sejumlah wali murid mengeluhkan tingginya pungutan biaya SNBI dalam satu tahun Rp 5,6 juta rupiah.
Sikap Masyarakat Berkaitan dengan sekolah yang marak diberi label internasional, ada kecenderungan muncul kebijakan yang cenderung kontroversial. Dengan label internasional, seakan-akan menjadikan hak mutlak untuk membuat kebijakan atau siasat di sekolah dengan menarik biaya mahal. Jika ini terjadi maka bisa muncul dua versi sikap masyarakat.
Pertama, bagi masyarakat atau orang tua kaya sekali pun tidak memahami makna sekolah bertaraf internasional secara konseptual, sikap mereka bisa berupa kemauan membayar mahal tetapi disertai harapan putra-putrinya dididik dan menjadi lulusan bertaraf internasional. Adapun bagi mereka yang tergolong keluarga pas-pasan, juga tidak memahami secara konseptual tentang jenis sekolah tersebut maka sikapnya bisa berupa nada protes atau keluhan beban biaya.
Kedua sikap di atas memiliki dampak negatif yang sama. Dampak sikap kelompok masyarakat yang pertama bisa saja merasa kecewa manakala putra-putrinya setelah lulus tidak menujukkan kualitas yang tergambarkan pada harapannya. Misalnya, di jenjang sekolah berikutnya atau yang lebih tinggi justru putra-putri mereka sejajar atau bahkan di bawah rata-rata dengan mereka yang bukan berasal dari sekolah berlabel internasional. Adapun bagi kelompok kedua lebih kecewa jika putra-putrinya di jenjang sekolah berikutnya juga menunjukkan hal yang sama seperti pada kelompok pertama karena telah membayar biaya mahal.
Masalah di atas bisa saja terjadi jika kebijakan sekolah hanya berdalih istilah internasional dengan konsep makna yang dipahami sendiri secara dangkal oleh pihak sekolah. Orang tua terimbas kebijakannya karena minimnya pengetahuan tentang konsep sekolah tersebut. Misalnya, ada sekolah seenaknya membuat aturan siswa harus membawa laptop ke sekolah. Apalagi kalau laptopnya dari usaha siswa sendiri dan bukannya disediakan oleh sekolah.
Apakah mau meniru Tukul Arwana? Ingat, Tukul Arwana membawa laptop di acara Empat Mata memang benda elektronik tersebut sudah disediakan dan memudahkan komunikasinya dengan pemberi pertanyaan.
Oleh karena itu, Jika sekolah menyuruh siswa membawa laptop semestinya sekolah bertaraf internasional sudah bisa menyediakannya. Belum lagi kebijakan berkaitan dengan masalah finansial. Tentunya menambah kekecewaan orang tua jika asimetri informasi antara pengambil kebijakan dan masyarakat dibiarkan begitu saja.
B. Istilah Internasional
Istilah sekolah internasional sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya yang dikenal sejauh ini adalah sekolah yang siswanya berasal dari berbagai negara. Sekolah ini banyak ditemui di kota-kota besar dan siswanya kebanyakan anak pejabat tinggi kedutaan, konsulat, atau ekspatriat. Merekalah yang bersekolah di jenis sekolah internasional. Kemudian di beberapa negara Eropa dan Amerika termasuk Australia juga ada sekolah internasional yang salah satu tandanya adalah mahasiswanya berasal dari berbagai negara.
Sekarang wacana sekolah berlabel internasional berkesan dijadikan komoditas jasa pendidikan sebagai alat untuk menaikkan biaya sekolah, dengan klaim lebih tinggi mutunya dibanding sekolah biasa atau nasional. Dari sini perlu dicari definisi setidaknya konsep awal sekolah yang diberi embel-embel internasional. Masyarakat atau orang tua juga perlu tahu, misalnya standar apa bisa dipakai kriteria sekolah bertaraf inetrnasional? Dari lembaga mana akreditasi sekolah tersebut dan spektrum apa saja yang bisa dimaknai internasional sehingga kriterianya jelas untuk mendapat predikat bertaraf internasional?
Dalam panduannya, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tentang panduan KTSP sub bab Komponen KTSP bagian B poin 7.a, hanya menjelaskan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global sebagai berikut: Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Dengan demikian, istilah global yang mungkin disamakan dengan istilah internasional masih mengandung konsep makna yang masih abstrak.
Label internasional cenderung hanya didasarkan pada penggunaan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jika ini yang terjadi maka sekolah akan terjebak pada makna dangkal istilah sekolah internasional. Lebih berbahaya lagi jika dijadikan dalih menarik biaya mahal. Bisakah sebuah jurusan bahasa Inggris atau kursus bahasa Inggris diklaim sebagai sekolah bertaraf internasional, meskipun lokasinya mungkin masih menyewa gedung ala kadarnya? Tetapi jika sarana prasarana sebagai justifikasi label internasional maka fasilitas apa yang mengandung makna internasional? Bukankah sekolah biasa berhak mendapat penyediaan berfasilitas internasional dari Diknas? Adakah kesepakatan definisi fasilitas atau benda apa bisa dirujuk sebagai makna atau lambang internasional?
Memang inovasi pendidikan sangat diperlukan agar sekolah bisa menjadi tumpuhan harapan pencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara global. Tetapi dengan pemahaman konsep sekolah yang hanya dimonopoli oleh pihak sekolah serta jajaran Diknas maka perlu dipertimbangkan juga hak-hak untuk tahu bagi masyarakat. Ini agar tidak terjadi asimetri informasi yang ujung-ujungnya justru masyarakat yang merasa dirugikan. Oleh karena itu, ada beberapa jalan untuk ditempuh jika ada keluhan dari pihak orang tua tehadap dampak kebijakan sekolah yang berlabel internasional.
Pertama, berilah paparan tentang konsep internasional. Jangan label tersebut dijadikan instrumen pembuat kebijakan biaya serba mahal lalu masyarakat jadi objek penderita. Kedua, jelaskan siapa pemberi akreditasi sehingga sekolah tersebut berhak mendapat predikat internasional! Lembaga apa dan ada dimana posisinya? Ketiga, jika ada benchmark, yaitu sekolah yang bisa dirujuk sebagai pembanding untuk dijadikan patokan bermutu internasional, maka tunjukkan tempat sekolah tersebut agar masyarakat bisa memutuskan bahwa sekolah tersebut layak berstandar sekolah internasional.
Dengan pemahaman yang sama oleh pihak sekolah dan masyarakat atau orang tua terhadap makna internasional, niscaya tidak timbul ekses negatif akibat asimetri informasi di masyarakat tentang SNBI.
Munculnya wacana sekolah nasional bertaraf internasional (SNBI) banyak mengundang rasa ingin tahu masyarakat. Sebenarnya jenis sekolah apa SNBI itu? Di samping belum jelasnya pemahaman masyarakat utamanya orang tua siswa tentang konsep rancangan SNBI, juga belum ada pemaparan oleh pihak dinas pendidikan secara proaktif membeberkan sekolah jenis tersebut.
Dengan adanya monopoli informasi di pihak lembaga pendidikan atau sekolah dan jajaran Diknas tentang konsep SNBI, maka hanya merekalah yang memahami konsep sekolah tersebut. Sebaliknya, dengan minimnya informasi di pihak masyarakat tentang konsep SNBI, maka akan muncul permasalahan ketidaktahuan secara konseptual yang tergambarkan dalam segala kebijakan (policy) dalam sekolah. Di sinilah sebenarnya ada krisis pemahaman yang diakibatkan oleh asimetri informasi (information asymmetry) antara pihak lembaga pendidikan termasuk jajaran Diknas dan masyarakat atau orang tua siswa.
Sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita betapa berbahayanya asimetri informasi jika terjadi pada kehidupan, baik sosial, politik, dan ekonomi apalagi bidang pendidikan yang objeknya langsung publik atau orang tua. Publik yang menjadi salah satu stakeholders dari institusi pendidikan sering dijadikan objek penderita. Jika instansi pendidikan tidak menyadari akan bahayanya asimetri informasi maka mereka akan menjadi sasaran dampak asimetri itu sendiri.
Keluhan masyarakat merupakan indikasi sebagai ungkapan ketidakpuasan akibat kebijakan yang diambil dalam instansi tersebut. Seperti yang terjadi di Probolinggo ada sejumlah wali murid mengeluhkan tingginya pungutan biaya SNBI dalam satu tahun Rp 5,6 juta rupiah.
Sikap Masyarakat Berkaitan dengan sekolah yang marak diberi label internasional, ada kecenderungan muncul kebijakan yang cenderung kontroversial. Dengan label internasional, seakan-akan menjadikan hak mutlak untuk membuat kebijakan atau siasat di sekolah dengan menarik biaya mahal. Jika ini terjadi maka bisa muncul dua versi sikap masyarakat.
Pertama, bagi masyarakat atau orang tua kaya sekali pun tidak memahami makna sekolah bertaraf internasional secara konseptual, sikap mereka bisa berupa kemauan membayar mahal tetapi disertai harapan putra-putrinya dididik dan menjadi lulusan bertaraf internasional. Adapun bagi mereka yang tergolong keluarga pas-pasan, juga tidak memahami secara konseptual tentang jenis sekolah tersebut maka sikapnya bisa berupa nada protes atau keluhan beban biaya.
Kedua sikap di atas memiliki dampak negatif yang sama. Dampak sikap kelompok masyarakat yang pertama bisa saja merasa kecewa manakala putra-putrinya setelah lulus tidak menujukkan kualitas yang tergambarkan pada harapannya. Misalnya, di jenjang sekolah berikutnya atau yang lebih tinggi justru putra-putri mereka sejajar atau bahkan di bawah rata-rata dengan mereka yang bukan berasal dari sekolah berlabel internasional. Adapun bagi kelompok kedua lebih kecewa jika putra-putrinya di jenjang sekolah berikutnya juga menunjukkan hal yang sama seperti pada kelompok pertama karena telah membayar biaya mahal.
Masalah di atas bisa saja terjadi jika kebijakan sekolah hanya berdalih istilah internasional dengan konsep makna yang dipahami sendiri secara dangkal oleh pihak sekolah. Orang tua terimbas kebijakannya karena minimnya pengetahuan tentang konsep sekolah tersebut. Misalnya, ada sekolah seenaknya membuat aturan siswa harus membawa laptop ke sekolah. Apalagi kalau laptopnya dari usaha siswa sendiri dan bukannya disediakan oleh sekolah.
Apakah mau meniru Tukul Arwana? Ingat, Tukul Arwana membawa laptop di acara Empat Mata memang benda elektronik tersebut sudah disediakan dan memudahkan komunikasinya dengan pemberi pertanyaan.
Oleh karena itu, Jika sekolah menyuruh siswa membawa laptop semestinya sekolah bertaraf internasional sudah bisa menyediakannya. Belum lagi kebijakan berkaitan dengan masalah finansial. Tentunya menambah kekecewaan orang tua jika asimetri informasi antara pengambil kebijakan dan masyarakat dibiarkan begitu saja.
B. Istilah Internasional
Istilah sekolah internasional sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya yang dikenal sejauh ini adalah sekolah yang siswanya berasal dari berbagai negara. Sekolah ini banyak ditemui di kota-kota besar dan siswanya kebanyakan anak pejabat tinggi kedutaan, konsulat, atau ekspatriat. Merekalah yang bersekolah di jenis sekolah internasional. Kemudian di beberapa negara Eropa dan Amerika termasuk Australia juga ada sekolah internasional yang salah satu tandanya adalah mahasiswanya berasal dari berbagai negara.
Sekarang wacana sekolah berlabel internasional berkesan dijadikan komoditas jasa pendidikan sebagai alat untuk menaikkan biaya sekolah, dengan klaim lebih tinggi mutunya dibanding sekolah biasa atau nasional. Dari sini perlu dicari definisi setidaknya konsep awal sekolah yang diberi embel-embel internasional. Masyarakat atau orang tua juga perlu tahu, misalnya standar apa bisa dipakai kriteria sekolah bertaraf inetrnasional? Dari lembaga mana akreditasi sekolah tersebut dan spektrum apa saja yang bisa dimaknai internasional sehingga kriterianya jelas untuk mendapat predikat bertaraf internasional?
Dalam panduannya, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tentang panduan KTSP sub bab Komponen KTSP bagian B poin 7.a, hanya menjelaskan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global sebagai berikut: Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Dengan demikian, istilah global yang mungkin disamakan dengan istilah internasional masih mengandung konsep makna yang masih abstrak.
Label internasional cenderung hanya didasarkan pada penggunaan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jika ini yang terjadi maka sekolah akan terjebak pada makna dangkal istilah sekolah internasional. Lebih berbahaya lagi jika dijadikan dalih menarik biaya mahal. Bisakah sebuah jurusan bahasa Inggris atau kursus bahasa Inggris diklaim sebagai sekolah bertaraf internasional, meskipun lokasinya mungkin masih menyewa gedung ala kadarnya? Tetapi jika sarana prasarana sebagai justifikasi label internasional maka fasilitas apa yang mengandung makna internasional? Bukankah sekolah biasa berhak mendapat penyediaan berfasilitas internasional dari Diknas? Adakah kesepakatan definisi fasilitas atau benda apa bisa dirujuk sebagai makna atau lambang internasional?
Memang inovasi pendidikan sangat diperlukan agar sekolah bisa menjadi tumpuhan harapan pencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara global. Tetapi dengan pemahaman konsep sekolah yang hanya dimonopoli oleh pihak sekolah serta jajaran Diknas maka perlu dipertimbangkan juga hak-hak untuk tahu bagi masyarakat. Ini agar tidak terjadi asimetri informasi yang ujung-ujungnya justru masyarakat yang merasa dirugikan. Oleh karena itu, ada beberapa jalan untuk ditempuh jika ada keluhan dari pihak orang tua tehadap dampak kebijakan sekolah yang berlabel internasional.
Pertama, berilah paparan tentang konsep internasional. Jangan label tersebut dijadikan instrumen pembuat kebijakan biaya serba mahal lalu masyarakat jadi objek penderita. Kedua, jelaskan siapa pemberi akreditasi sehingga sekolah tersebut berhak mendapat predikat internasional! Lembaga apa dan ada dimana posisinya? Ketiga, jika ada benchmark, yaitu sekolah yang bisa dirujuk sebagai pembanding untuk dijadikan patokan bermutu internasional, maka tunjukkan tempat sekolah tersebut agar masyarakat bisa memutuskan bahwa sekolah tersebut layak berstandar sekolah internasional.
Dengan pemahaman yang sama oleh pihak sekolah dan masyarakat atau orang tua terhadap makna internasional, niscaya tidak timbul ekses negatif akibat asimetri informasi di masyarakat tentang SNBI.
METODE ILMIAH
Meode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang di sebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang di dapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Epistemologo merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan.
Berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan eksperesi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah. Dalam haal ini maka metode ilmiahmencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan yang bersifat rasional ini dengan kriteria kebenaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final, sebab sesuai dengan hakekat rasionalisme yang bersifat pluralistik, maka dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran tertentu, selain itu dipergunakan pula cara berfikir induktif yang berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi.
Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan dapat dianggap benar sekiranya materi yang terkandung dalam pernyataan itu bersesuaian (berkorespondensi) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar bila terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan itu. Bila kita dihadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang secara empiris belim kita kenali. Dan justru disinilah sebenarnya esensi dari penemuan ilmiah yakni bahwa kita mengetahui sesuatu yang belum pernah kita ketahui dalam pengkajian ilmiah sebagai kesimpulan dalam penalaran deduktif. Penemuan yang satu akan mengakibatkan penemuan yang lain dengan penarikan kesimpuilan secara deduktif.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan. Dapat disimpulkan bahwa karena ada masalahlah maka proses berpikir dimulai, dan karena masalah ini berasal dari dunia empiris maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan obyek yang bersangkutan, yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
Bahwa manusia menghadapi masalah, atau bahwa manusia menyadari adanya masalah dan bermaksud untuk memecahkannya, hal ini bukanlah sesuatu yang baru sejak manusia berada dimuka bumi sejak dahulu kala. Namun dalam menghadapi masalah ini maka manusiamemberikan reaksi yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan cara berpikir mereka. Berdasarkan sikap manusia menghadapi masalah ini maka Van Peursen membagi perkembangan kebudayaan menjadi tiga tahap yakni tahap Mistis, tahap Antologis, dan tahap Fungsional.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan melainkan kepada fikiran yang berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakekat permasalahan itu dan dengan demikian maka dia dapat memecahkannya. Dalam hal ini maka pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata.
Einstein berkata, apa pun juga teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksud disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuain dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimana pun meyakinkannya, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Oleh sebab itu maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifit sementara. Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis. Sering kita temui kesalahpahaman di mana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi apakah hipotesis ini benar atau tidak.
Kalau kita kaji secara mendalam maka kemajuan ilmu sebenarnya tidak dilakukan oleh sekelompok kecil jenius dengan buah pikirannya yang monumental, melainkan oleh manusia-manusia biasa yang selangkah demi selangkah menyusun tumpukan ilmu berdasarkan penemuan sebelumnya. Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-vertifikatif, atau menurut Tyndall sebagai “pekawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi”.
Proses pengujian merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta ini kadang bersifat sederhana yang dapat kita tangkap secara langsung dengan pancaindra kita. Kadang-kadang kita memerlukan instrumen yang membantu pancaindra kita, umpamanya teleskop dan microskop. Dalam penyelidikan fisik nuklir maka pembuktian ini kadang-kadang memerlukan alat yang rumit sekali, sehingga sering terjadi bahwa suatu hipotesis baru dapat dibuktikan beberapa lama kemudian, setelah ditemukan alat yang dapat membantu mengumpulkan fakta yang bersangkutan. Hal ini pulalah yang menyebabkan penelitian ilmiah menjadi sangat mahal, yang disebabkan bukan oleh penyusunan teorinya, melainkan dalam pembuktiannya.
Metode ilmiah adalah penting bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada msyarakat ilmuwan. Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melaikan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.
Dengan metode ilmiah sebagai paradigma maka dibandingkan dengan berbagai pengetahuan lainnya ilmu dapat dikatakan berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah faktor sosial dari komunikasi ilmiah di mana penemuan individual segera dapat diketahui dan di kaji oleh anggota masyarakat ilmuwan lainnya.
Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian sesuai dengan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga dalam jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa yang akan datang. Penilaian terhadap ilmu tidaklah ditentukan oleh kesahihan teorinya sepanjang zaman melainkan terletak dalam kemampuan memberikan jawaban terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban tertentu.merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa kurun masa kini kita mempergunakan berbagai kemudahan yang dikembangkan oleh ilmu dan teknologi umpamanya sarana angkutan seperti mobil dan pesawat terbang. Sarana angkutan tersebut yang bersifat fungsional dalam kehidupan masa kini dikembangkan berdasarkan pengetahuan ilmiah yang kebenarannya diakui pada ini. Dikemudian hari mungkin saja harus diciptakan sarana angkutan lain yang memerlukan teori lain pula untuk mengembangkannya.
Demikianlah kita telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu yang walaupun demikian kekurangan ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita. Sebab terlepas dari segala keterbatasannya ilmu merupakan pengetahuanyang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat sewajarnya, sebab hanya dengan sikap itulah. Kita dapat mamfaatkan kegenuannya semaksimal mukin bagi kemaslahatan manusia. Mengatasi segalanya harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat dan semuanya tergantung kepada kita apakah kita mempergunakan alat itu dengan baik atau tidak. Menolak kehadiran ilmu dengan picik bearti kita menutup mata terhadap semua kemajuan masa kini dimana hampir semua aspek kehidupan modern dipengaruh oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa-dewakan ilmu, hal ini menunjukan bahwa dinsini pun kita gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakekat ilmu yang sesungguhnya. Mereka yang sungguh-sungguh berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, di atas dasar itu meraka menerima ilmu sebagaimana adanya, mencintai nya dengan bijaksana, serta menjadikan dia bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama-sama pengetahuan lainnya, dan bersama pelengkap kehidupan lainya seperti seni dan agama, ilmu melengkapi kehidupan dan memenuhkan kebahagian kita. Tanpa kesadaran itu, maka kita hanya kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan.
Meode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang di sebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang di dapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Epistemologo merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan.
Berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan eksperesi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah. Dalam haal ini maka metode ilmiahmencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan yang bersifat rasional ini dengan kriteria kebenaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final, sebab sesuai dengan hakekat rasionalisme yang bersifat pluralistik, maka dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran tertentu, selain itu dipergunakan pula cara berfikir induktif yang berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi.
Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan dapat dianggap benar sekiranya materi yang terkandung dalam pernyataan itu bersesuaian (berkorespondensi) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar bila terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan itu. Bila kita dihadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang secara empiris belim kita kenali. Dan justru disinilah sebenarnya esensi dari penemuan ilmiah yakni bahwa kita mengetahui sesuatu yang belum pernah kita ketahui dalam pengkajian ilmiah sebagai kesimpulan dalam penalaran deduktif. Penemuan yang satu akan mengakibatkan penemuan yang lain dengan penarikan kesimpuilan secara deduktif.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan. Dapat disimpulkan bahwa karena ada masalahlah maka proses berpikir dimulai, dan karena masalah ini berasal dari dunia empiris maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan obyek yang bersangkutan, yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
Bahwa manusia menghadapi masalah, atau bahwa manusia menyadari adanya masalah dan bermaksud untuk memecahkannya, hal ini bukanlah sesuatu yang baru sejak manusia berada dimuka bumi sejak dahulu kala. Namun dalam menghadapi masalah ini maka manusiamemberikan reaksi yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan cara berpikir mereka. Berdasarkan sikap manusia menghadapi masalah ini maka Van Peursen membagi perkembangan kebudayaan menjadi tiga tahap yakni tahap Mistis, tahap Antologis, dan tahap Fungsional.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan melainkan kepada fikiran yang berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakekat permasalahan itu dan dengan demikian maka dia dapat memecahkannya. Dalam hal ini maka pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata.
Einstein berkata, apa pun juga teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksud disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuain dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimana pun meyakinkannya, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Oleh sebab itu maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifit sementara. Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis. Sering kita temui kesalahpahaman di mana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi apakah hipotesis ini benar atau tidak.
Kalau kita kaji secara mendalam maka kemajuan ilmu sebenarnya tidak dilakukan oleh sekelompok kecil jenius dengan buah pikirannya yang monumental, melainkan oleh manusia-manusia biasa yang selangkah demi selangkah menyusun tumpukan ilmu berdasarkan penemuan sebelumnya. Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-vertifikatif, atau menurut Tyndall sebagai “pekawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi”.
Proses pengujian merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta ini kadang bersifat sederhana yang dapat kita tangkap secara langsung dengan pancaindra kita. Kadang-kadang kita memerlukan instrumen yang membantu pancaindra kita, umpamanya teleskop dan microskop. Dalam penyelidikan fisik nuklir maka pembuktian ini kadang-kadang memerlukan alat yang rumit sekali, sehingga sering terjadi bahwa suatu hipotesis baru dapat dibuktikan beberapa lama kemudian, setelah ditemukan alat yang dapat membantu mengumpulkan fakta yang bersangkutan. Hal ini pulalah yang menyebabkan penelitian ilmiah menjadi sangat mahal, yang disebabkan bukan oleh penyusunan teorinya, melainkan dalam pembuktiannya.
Metode ilmiah adalah penting bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada msyarakat ilmuwan. Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melaikan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.
Dengan metode ilmiah sebagai paradigma maka dibandingkan dengan berbagai pengetahuan lainnya ilmu dapat dikatakan berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah faktor sosial dari komunikasi ilmiah di mana penemuan individual segera dapat diketahui dan di kaji oleh anggota masyarakat ilmuwan lainnya.
Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian sesuai dengan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga dalam jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa yang akan datang. Penilaian terhadap ilmu tidaklah ditentukan oleh kesahihan teorinya sepanjang zaman melainkan terletak dalam kemampuan memberikan jawaban terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban tertentu.merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa kurun masa kini kita mempergunakan berbagai kemudahan yang dikembangkan oleh ilmu dan teknologi umpamanya sarana angkutan seperti mobil dan pesawat terbang. Sarana angkutan tersebut yang bersifat fungsional dalam kehidupan masa kini dikembangkan berdasarkan pengetahuan ilmiah yang kebenarannya diakui pada ini. Dikemudian hari mungkin saja harus diciptakan sarana angkutan lain yang memerlukan teori lain pula untuk mengembangkannya.
Demikianlah kita telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu yang walaupun demikian kekurangan ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita. Sebab terlepas dari segala keterbatasannya ilmu merupakan pengetahuanyang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat sewajarnya, sebab hanya dengan sikap itulah. Kita dapat mamfaatkan kegenuannya semaksimal mukin bagi kemaslahatan manusia. Mengatasi segalanya harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat dan semuanya tergantung kepada kita apakah kita mempergunakan alat itu dengan baik atau tidak. Menolak kehadiran ilmu dengan picik bearti kita menutup mata terhadap semua kemajuan masa kini dimana hampir semua aspek kehidupan modern dipengaruh oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa-dewakan ilmu, hal ini menunjukan bahwa dinsini pun kita gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakekat ilmu yang sesungguhnya. Mereka yang sungguh-sungguh berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, di atas dasar itu meraka menerima ilmu sebagaimana adanya, mencintai nya dengan bijaksana, serta menjadikan dia bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama-sama pengetahuan lainnya, dan bersama pelengkap kehidupan lainya seperti seni dan agama, ilmu melengkapi kehidupan dan memenuhkan kebahagian kita. Tanpa kesadaran itu, maka kita hanya kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan.
Apa yang dimaksud belajar mengajar ?
Yang dimaksud belajar mengajar adalah proses menghubungkan pokok isi materi ke situasi riil dan memotivasi para siswa untuk membuat hubungan pengetahuan dan aplikasi nya dalam hidup mereka baik sebagai anggota keluarga, warganegara, dan para pekerja dan terlibat langsung dalam proses strategi belajar dan mengajar.
Masalah dasar. CTL dapat ditirukan dengan masalah nyata. para siswa menggunakan cara berpikir yang terampilan dan suatu pendekatan yang sistematis untuk memecahkan masalah atau isu. para siswa boleh juga menggunakan berbagai cara untuk memecahkan permasalahan ini. permasalahan yang berkait dengan keluarga-keluarga siswa, lingkngan sekolah , tempat kerja, dan masyarakat memegang peranan lebih besar untuk para siswa.
Penggunaan berbagai konteks. teori pengamatan menyatakan bahwa pengetahuan tidak bisa terpisah dari phisik dan konteks sosial . bagaimana jika seseorang memperoleh dan menciptakan pengetahuan yang sangat penting. Dalam CTL para siswa di perkaya belajar ketrampilan dalam berbagai bidang,contohnya : sekolah, masyarakat, tempat kerja, keluarga.
Gambar keaneka ragaman siswa. pada keseluruhan, populasi siswa menjadi semakin berbeda, dan dengan keaneka ragaman ditingkatkan perbedaan di dalam nilai-nilai, adat istiadat ,sosial, dan perspektif. perbedaan ini dapat menjadi motivasi untuk belajar dan dapat menambahkan kompleksitas dalam CTL .kerja sama dan aktivitas kelompok regu dalam belajar bertujuan untuk menghormati perbedaan siswa, meluaskan perspektif, dan membangun inter-personal ketrampilan.
Pendukung pelajaran self-regulated. akhirnya, para siswa harus menjadi pelajar yang kekal. pelajar kekal bisa mencari-cari, meneliti, dan tidak menggunakan informasi dengan cara pengawasan. untuk melakukannya, para siswa harus menjadi lebih sadar bagaimana mereka memproses informasi, mencari pemecahan masalah, dan menggunakan latar belakang pengetahuan. CTL perlu mempertimbangkan untuk mencoba-coba; menyediakan struktur dan waktu untuk cerminan dan menyediakan pendukungan yang cukup untuk membantu para siswa dalam gerakkan kemandirian belajar.
Penggunaan kelompok pelajaran saling tergantung. para siswa akan dipengaruhi dan akan berperan untuk mendapat kepercayaan dan pengetahuan dari yang lain. pelajaran kelompok, atau masyarakat pelajaran, didirikan dalam tempat kerja dan sekolah di suatu usaha untuk berbagi pengetahuan, memusatkan pada tujuan, dan mengijinkan semuanya untuk mengajar dan belajar dari masing-masing individu. ketika dalam proses belajar mengajar di sekolah, pendidik bertindak sebagai pelatih, facilitators, dan penasihat.
Memanfaatkan penilaian asli. CTL dimaksudkan untuk membangun ketrampilan dan pengetahuan yang penuh arti dengan melibatkan para siswa dalam kehidupan nyata,. penilaian aoutentik perlu menyesuaikan dengan tujuan dan metode instruksi. pertunjukan penilaian aouthentic di antaranya; dicampur ke dalam pengajaran/ pelajaran proses; dan menyiapkan para siswa dengan arah dan peluang untuk peningkatan keterampilan. penilaian aouthentic digunakan untuk memonitor para siswa maju dan menginformasikan mengajar praktek.
Banyak dari strategi ini digunakan dalam kelas. aktivitas seperti kelompok belajar mngajar, mengintegrasikan pelajaran, pelajaran yang bersifat dasar,layanan belajar, pelajaran memecahkan masalah dasar, dan lain yang mendukung CTL dan telah terjadi di dalam kelas dan sekolah. banyak pendidik secara rutin menggunakan aktivitas ini untuk mendorong pemeriksaan, pemecahan persoalan, dan penggunaan cara berpikir terampil. pendidik ini melihat proses pelajaran sebagai metode untuk membantu semua para siswa menemukan status dan mencapai standard lokal.
Agar CTL bisa menjadi lebih efektif, maka semua strategi harus digunakan dalam proses belajar mengajar. implementasi CTL akan mendatangkan perubahan yang sangat drastis dalam praktek untuk semua pendidik. CTL bertujuan meluaskan kemampuan dan pengetahuan pendidik dan siswa untuk memudahkan belajar.
Dengan cara yang sama, implementasi CTL mempunyai cabang organisasi. Menurut beberapa pengguna CTL, “pendekatan ini berbeda dengan cara-cara lain untuk memikirkan strategi belajar mengajar. Di sini janganlah kita mencoba untuk menaikkan standar nilai dengan sistem belajar mengajar yang sangat rumit. Pada prinsipnya, sekolah, orang tua, dan masyarakat harus memberikan dukungan untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Karena CTL untuk keberhasilan semua siswa, oleh karnanya sekolah harus menghargai dan mendukung pendekatan itu. Menurut newmann dan wehlage ( 1997); untuk menguraikan suatu sistem pendukung pelajaran yang asli harus meneyesuaikan diri, dengan cara menguraikan dukungan untuk CTL.
Di dalam keterangan newmann, wehlage dan lingkaran pendukung, itu merupakan suatu faktor pendukung untuk meningkatkan mutu belajar siswa . Jadi yang harus dilakukan oleh pihak sekolah adalah memusyawarahkan tentang apa yang perlu siswa pelajari dan strategi apa yang harus dilakukan untuk mendukung minat belajarnya. Berikutnya, strategi belajar mengajar, (baik di kelas, sekolah, atau di lingkungan masyarakat) memerlukan dukungan yang pantas untuk dipertimbangkan oleh pihak sekolah. Pada akhirnya, dukungan eksternal menyediakan dorongan dan sumber daya untuk membantu para siswa dan pendidik dalam menciptakan proses belajar mengajar yang bermutu tinggi di lingkungannya.
Yang dimaksud belajar mengajar adalah proses menghubungkan pokok isi materi ke situasi riil dan memotivasi para siswa untuk membuat hubungan pengetahuan dan aplikasi nya dalam hidup mereka baik sebagai anggota keluarga, warganegara, dan para pekerja dan terlibat langsung dalam proses strategi belajar dan mengajar.
Masalah dasar. CTL dapat ditirukan dengan masalah nyata. para siswa menggunakan cara berpikir yang terampilan dan suatu pendekatan yang sistematis untuk memecahkan masalah atau isu. para siswa boleh juga menggunakan berbagai cara untuk memecahkan permasalahan ini. permasalahan yang berkait dengan keluarga-keluarga siswa, lingkngan sekolah , tempat kerja, dan masyarakat memegang peranan lebih besar untuk para siswa.
Penggunaan berbagai konteks. teori pengamatan menyatakan bahwa pengetahuan tidak bisa terpisah dari phisik dan konteks sosial . bagaimana jika seseorang memperoleh dan menciptakan pengetahuan yang sangat penting. Dalam CTL para siswa di perkaya belajar ketrampilan dalam berbagai bidang,contohnya : sekolah, masyarakat, tempat kerja, keluarga.
Gambar keaneka ragaman siswa. pada keseluruhan, populasi siswa menjadi semakin berbeda, dan dengan keaneka ragaman ditingkatkan perbedaan di dalam nilai-nilai, adat istiadat ,sosial, dan perspektif. perbedaan ini dapat menjadi motivasi untuk belajar dan dapat menambahkan kompleksitas dalam CTL .kerja sama dan aktivitas kelompok regu dalam belajar bertujuan untuk menghormati perbedaan siswa, meluaskan perspektif, dan membangun inter-personal ketrampilan.
Pendukung pelajaran self-regulated. akhirnya, para siswa harus menjadi pelajar yang kekal. pelajar kekal bisa mencari-cari, meneliti, dan tidak menggunakan informasi dengan cara pengawasan. untuk melakukannya, para siswa harus menjadi lebih sadar bagaimana mereka memproses informasi, mencari pemecahan masalah, dan menggunakan latar belakang pengetahuan. CTL perlu mempertimbangkan untuk mencoba-coba; menyediakan struktur dan waktu untuk cerminan dan menyediakan pendukungan yang cukup untuk membantu para siswa dalam gerakkan kemandirian belajar.
Penggunaan kelompok pelajaran saling tergantung. para siswa akan dipengaruhi dan akan berperan untuk mendapat kepercayaan dan pengetahuan dari yang lain. pelajaran kelompok, atau masyarakat pelajaran, didirikan dalam tempat kerja dan sekolah di suatu usaha untuk berbagi pengetahuan, memusatkan pada tujuan, dan mengijinkan semuanya untuk mengajar dan belajar dari masing-masing individu. ketika dalam proses belajar mengajar di sekolah, pendidik bertindak sebagai pelatih, facilitators, dan penasihat.
Memanfaatkan penilaian asli. CTL dimaksudkan untuk membangun ketrampilan dan pengetahuan yang penuh arti dengan melibatkan para siswa dalam kehidupan nyata,. penilaian aoutentik perlu menyesuaikan dengan tujuan dan metode instruksi. pertunjukan penilaian aouthentic di antaranya; dicampur ke dalam pengajaran/ pelajaran proses; dan menyiapkan para siswa dengan arah dan peluang untuk peningkatan keterampilan. penilaian aouthentic digunakan untuk memonitor para siswa maju dan menginformasikan mengajar praktek.
Banyak dari strategi ini digunakan dalam kelas. aktivitas seperti kelompok belajar mngajar, mengintegrasikan pelajaran, pelajaran yang bersifat dasar,layanan belajar, pelajaran memecahkan masalah dasar, dan lain yang mendukung CTL dan telah terjadi di dalam kelas dan sekolah. banyak pendidik secara rutin menggunakan aktivitas ini untuk mendorong pemeriksaan, pemecahan persoalan, dan penggunaan cara berpikir terampil. pendidik ini melihat proses pelajaran sebagai metode untuk membantu semua para siswa menemukan status dan mencapai standard lokal.
Agar CTL bisa menjadi lebih efektif, maka semua strategi harus digunakan dalam proses belajar mengajar. implementasi CTL akan mendatangkan perubahan yang sangat drastis dalam praktek untuk semua pendidik. CTL bertujuan meluaskan kemampuan dan pengetahuan pendidik dan siswa untuk memudahkan belajar.
Dengan cara yang sama, implementasi CTL mempunyai cabang organisasi. Menurut beberapa pengguna CTL, “pendekatan ini berbeda dengan cara-cara lain untuk memikirkan strategi belajar mengajar. Di sini janganlah kita mencoba untuk menaikkan standar nilai dengan sistem belajar mengajar yang sangat rumit. Pada prinsipnya, sekolah, orang tua, dan masyarakat harus memberikan dukungan untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Karena CTL untuk keberhasilan semua siswa, oleh karnanya sekolah harus menghargai dan mendukung pendekatan itu. Menurut newmann dan wehlage ( 1997); untuk menguraikan suatu sistem pendukung pelajaran yang asli harus meneyesuaikan diri, dengan cara menguraikan dukungan untuk CTL.
Di dalam keterangan newmann, wehlage dan lingkaran pendukung, itu merupakan suatu faktor pendukung untuk meningkatkan mutu belajar siswa . Jadi yang harus dilakukan oleh pihak sekolah adalah memusyawarahkan tentang apa yang perlu siswa pelajari dan strategi apa yang harus dilakukan untuk mendukung minat belajarnya. Berikutnya, strategi belajar mengajar, (baik di kelas, sekolah, atau di lingkungan masyarakat) memerlukan dukungan yang pantas untuk dipertimbangkan oleh pihak sekolah. Pada akhirnya, dukungan eksternal menyediakan dorongan dan sumber daya untuk membantu para siswa dan pendidik dalam menciptakan proses belajar mengajar yang bermutu tinggi di lingkungannya.
BIMBINGAN BAGI MURID BERPERILAKU BERMASALAH
Perilaku bermasalah adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik, dan hal itu merupakan perilaku bermasalah.
Perilaku bermasalah yang nampak dipermukaan, baru merupakan indikator bahwa murid memiliki masalah. Guru hendaknya menyikap jauh dibalik perilaku yang nampak, agar memilki pemahaman tentang karakteristik perilaku murid yang sesungguhnya.
1. Pengertian dan Jenis Perilaku Bermasalah
Dalam pendekatan bimbingan perkembangan, guru dimungkinkan untuk memberikan layanan bimbingan terpadu dalam KBM. Melalui dasar bimbingan, guru membantu seluruh murid. Namun sekalipun telah memberikan bantuan terhadap seluruh murid, ada saja murid yang berperilaku bermasalah. Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab “murid yang bermasalah” biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Memahami perilaku bermasalah mengandung arti bahwa guru harus lebih sensitif terhadap interaksi antara berbagai kekuatan dan faktor di lingkungan peserta didik dengan penampilan perilaku peserta didik di sekolah.
Walaupun perilaku bermasalah hanya tampak pada sebagian peserta didik, namun perhatian guru harus tertuju kepada semua peserta ddik. Seringkali guru memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini seringkali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada di balik perilaku bermasalah tersebut.
2. Bentuk-Bentuk Perilaku Bermasalah
Kesulitan memahami perilaku bermaslah adalah karena perilaku tersebut tampil dalam perilaku menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut “mekanisme mempertahankan diri” yang disebabkan oleh karena peserta didik menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya.
Bentuk umum dari perilaku mekanisme mempertahankan diri ini adalah :
a. Rasionalisasi
Mekanisme perilaku rasionalisasi ditunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu, penjelasan yang tampak biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya.
b. Sikap Bermusuhan
Sikap ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing, dan mengecam lingkungan.
c. Menghukum Diri Sendiri
Perilaku ini tampak dalam wujud mencela diri sebagai penyebab utama kesalahan atau kegagalan. Perilaku menghukum diri ini terjadi karena individu cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai yang amat kuat.
d. Represi
Penyebab yang sebenarnya dari perilaku mekanisme diri terletak pada individu. Perilaku represi ditunjukkan dalm bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
e. Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dengan atau terhadap harapan-harapan orang lain. Dengan memenuhi harapan orang lain, maka dirinya akan terhindar dari kecemasan. Orang seperti ini memiliki harapan sosial dan ketergantungan yang tinggi.
f. Sinis
Perilaku sinis muncul, dari ketidak berdayaan iidividu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidak berdayaan ini membuat dirinya khawatir dan penilaian, orang lain terhadap dirinya, dan perilaku sinis merupakan perilaku menghindar dari penilaian orang lain.
Semua perilaku mekanisme pertahanan diri mempunyai karakteristik; 1).menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan, 2). Dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku ini dipelajari, yang cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan memecahkan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
Berikut ini disajikan deskripsi pencapaian murid dalam tiap aspek tugas perkembangan :
a. Menanamkan Kebiasaan dan Sikap dalam Beriman dan Bertaqwa terhadap Tuhan YME.
Pada umumnya murid SD telah dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dianut, terutama untuk siswa kelas tinggi (kelas IV, V, VI). Temuan peneliti ini tampaknya memberikan gambaran bahwa upaya pembinaan keagamaan baik di rumah maupun di sekolah, dalam hal melaksanakan ibadah menunjukkan keberhasilan. Selain dirumah penanaman nilai ini juga melalui mata pelajaran agama, juga dilakukan pada saat perayaan keagamaan, ibadah bersama disekolah. Murid SD cendrung belum dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang agama seperti menyontek. Perilaku menghormati kedua orang tua dan orang lain masih kurang. Murid SD lebih mementingkan dirinya sendiri, belum mampu mendahulukan kepentingan orang yang lebih tua. Kebanyakan murid SD belum menunjukkan kebanggaan atas kemampuan dirinya sendiri.
b. Mengembangkan Kata hati, Moral dan Nilai-nilai sebagai Pedoman Perilaku.
Tugas perkembangan ini dimaksud agar murid mengembangkan kontrol moral dari dalam, menghargai aturan moral, dan memulai dengan skala nilai yang rasional.
c. Mengembangkan Keterampilan Dasar Dalam Membaca, Menulis Dan Berhitung (Calistung).
Hakekat tugas perkembangan ini adalah murid belajar mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan menghitung secara memadai agar mampu beradaptasi dengan masyarakat.
d. Mempelajari Keterampilan Fisik Sederhana yang Diperlukan untuk Permainan dan Kehidupan.
Anak usia SD memberikan pengendalian yang lebih besar terhadap badannya dan mampu duduk atau berdiri dalam jangka waktu yang lama, disisi lain kekuatan fisik murid belum matang, dan memerlukan aktivitas.
Murid SD lebih merasa lelah disuruh duduk dalam waktu yang lama, dibandingkan dengan lari-lari, jungkir balik atau naik sepeda. Kegiatan fisik sangat penting untuk menyempurnakan perkembangan keterampilannya, seperti melempar bola, loncat tali, keseimbangan dalam meniti balok kayu.
e. Belajar Bergaul dan Bekerja dalam Kelompok Sebaya.
Pada usia sekolah anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga memasuki dunia teman sebaya. Melalui kelompok sebaya anak belajar memberikan dan menerima dalam kehidupan sosial di antara teman sebaya. Belajar berteman dan bekerja dalam kelompok, dapat mengembangkan kepribadian sosial.
f. Belajar Menjadi Pribadi yang Mandiri.
Hakekat tugas perkembangan ini adalah anak belajar menjadi pribadi yang mandiri, mampu membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan pada saat ini dan masa mendatang secara mandiri tidak tergantung pada orang tua atau orang yang lebih tua.
g. Membangun Sikap Hidup yang Sehat Megenai Diri Sendiri dan Lingkungan.
Tugas perkembangan ini berkenaan dengan kebiasaan dalam memelihara badan, kebersihan dan keamanan, memelihara kesehata, sikap realistis yang mencakup, perasaan memiliki fisik yang normal dan memadai, kemampuan menyenangi dalam menggunakan badannya, dan memiliki keutuhan sikap terhadap jenis kelamin. Kebersihan dalam mencapai tugas-tugas perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya keseimbangan kepribadian. Kebiasaan hidup sehat hendaknya dilakukan secara rutin.
h. Mengembangkan Konsep-konsep yang Perlu dalam Kehidupan Sehari-hari.
Hakekat tugas perkembangan ini adalah anak memperolehsejumlah konsep untuk berpikir efektif berkenaan dengan pekerjaan, kewarganegaraan, dan peristiwa-peristiwa sosial. Pada saat anak-anak siap memasuki sekolah, ia sebanarnya telah memiliki perbendaharaan beberapa ratus konsep-terutama konsep-konsep yang sederhana seperti ; bentuk lingkaran, rasa, warna, binatang, makanan, marah, dan cinta.
i. Belajar Menjalankan Peran Sosial Sesuai dengan Jenis Kelamin.
Murid SD hendaknya belajar berperan sebagai pria atau wanita sesuai dengan jenis kelaminnya sebagaimana yang diharapkan. Sebetulnya secara biologis perbedaan anatomi antara pria dan wanita tidak menuntut perbedaan peran jenis kelamin selama murid sekolah dasar. Postur tubuh anak wanita sebagaimana anak laki-laki tumbuh dengan baik melalui aktivitas fisik sehingga menjadi kuat dan besar. Baru pada usia sembilan atau sepuluh tahun, terdapat perbedaan anatomi antara anak laki-laki dengan murid wanita.
j. Memilki Sikap Positif terhadap Kelompok dan Lembaga-lembaga Sosial.
Kemampuan murid untuk mengembangkan sikap positif terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial, merupakan dasar untuk pengembangan sikap demokrasi. Tugas perkembangan ini dipelajari murid sejak di rumah, melalui teman sebaya, dalam kehidupan di masyarakat, dan di sekolah.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik dengan perkembangan murid SD (Sunaryo Kartadinata, 1990, 1996) adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan Fisik dan Kesehatan
Berdasarkan hasil pengamatan guru, terungkap bahwa gangguan perkembangan fisik dan kesehatan di kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3) berupa ; sangat lamban dalam bereaksi, gangguan pertumbuhan gigi, perkembangna fisik tidak sesuai dengan usia, dan lebih besar dari teman sebaya. Sementara itu pada kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6) terungkap bahwa gangguan perkembangan fisik dan kesehatan berupa ; sangat lamban dalam bereaksi, persoalan gizi, pertumbuhan fisik tidak sesuai dengan usia, dan lebih kecil dari teman sebaya.
2. Perkembangan Diri
Karakteristik yang lemah pada konsep diri murid SD tampak lebih berkaitan dengan kemampuan dan menerima diri sendiri. Kesadaran identitas diri masih banyak didominasi oleh perintah-perintah eksternal. Walaupun demikian kesadaran akan identitas jenis kelamin mulai berkembang terutama pada murid-murid kelas tinggi.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan hubungan sosial murid SD telah menunjukkan kecenderungan orientasi kelompok yang cukup kuat. Hubungan sosial murid masih berada pada intensitas yang lemah. Murid SD telah menunjukkan sikap loyal dan kesediaan berkorban untuk kelompok. Dalam kaitannya dengan interaksi kelompok ini, perkembangan etika murid-murid SD masih cenderung dikuasai oleh faktor-faktor eksternal.
4. Teknik Membantu Murid Bermasalah
Upaya membantu peserta didik mengatasi perilaku bermasalah dan menggantinya dengan perilaku yang efektif menghendaki keterampilan khusus dari guru. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk memperoleh lingkungan belajar yang sehat :
a. Memanfaatkan pengajaran kelas sebagai wahana untuk bimbingan kelompok. Dalam hai ini guru dapat bekerja sama dengan konselor sekolah jika di sekolah tersebut telah ada konselor (guru pembimbing).
b. Memanfaatkan pendekatan-pendekatan kelompok dalam melakukan bimbingan.
c. Mengadakan konferensi kasus dengan melibatkan para guru dan/ atau orang tua murid. Konferensi kasus ini dimaksudkan untuk menemukan alternatif pemecahan bagi kasus.
d. Menjadikan segi kesehantan mental sebagai salah satu segi evaluasi. Evaluasi sekolah seyogyanya tidak hanya menekankan kepada segi hasil belajar tetapi juga perlu memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik. Walaupun hasil evaluasi kepribadian itu tidak dijadikan faktor penentu keberhasilan peserta didik.
e. Memasukkan aspek-aspek hubungan insaniah ke dalam kurikulum sebagai terpadu dari bahan ajaran yang harus di sajikan guru.
f. Menaruh kepedulian khusus terhadap fakto-faktor psikologis yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran.
Perilaku bermasalah adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik, dan hal itu merupakan perilaku bermasalah.
Perilaku bermasalah yang nampak dipermukaan, baru merupakan indikator bahwa murid memiliki masalah. Guru hendaknya menyikap jauh dibalik perilaku yang nampak, agar memilki pemahaman tentang karakteristik perilaku murid yang sesungguhnya.
1. Pengertian dan Jenis Perilaku Bermasalah
Dalam pendekatan bimbingan perkembangan, guru dimungkinkan untuk memberikan layanan bimbingan terpadu dalam KBM. Melalui dasar bimbingan, guru membantu seluruh murid. Namun sekalipun telah memberikan bantuan terhadap seluruh murid, ada saja murid yang berperilaku bermasalah. Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab “murid yang bermasalah” biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Memahami perilaku bermasalah mengandung arti bahwa guru harus lebih sensitif terhadap interaksi antara berbagai kekuatan dan faktor di lingkungan peserta didik dengan penampilan perilaku peserta didik di sekolah.
Walaupun perilaku bermasalah hanya tampak pada sebagian peserta didik, namun perhatian guru harus tertuju kepada semua peserta ddik. Seringkali guru memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini seringkali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada di balik perilaku bermasalah tersebut.
2. Bentuk-Bentuk Perilaku Bermasalah
Kesulitan memahami perilaku bermaslah adalah karena perilaku tersebut tampil dalam perilaku menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut “mekanisme mempertahankan diri” yang disebabkan oleh karena peserta didik menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya.
Bentuk umum dari perilaku mekanisme mempertahankan diri ini adalah :
a. Rasionalisasi
Mekanisme perilaku rasionalisasi ditunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu, penjelasan yang tampak biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya.
b. Sikap Bermusuhan
Sikap ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing, dan mengecam lingkungan.
c. Menghukum Diri Sendiri
Perilaku ini tampak dalam wujud mencela diri sebagai penyebab utama kesalahan atau kegagalan. Perilaku menghukum diri ini terjadi karena individu cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai yang amat kuat.
d. Represi
Penyebab yang sebenarnya dari perilaku mekanisme diri terletak pada individu. Perilaku represi ditunjukkan dalm bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
e. Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dengan atau terhadap harapan-harapan orang lain. Dengan memenuhi harapan orang lain, maka dirinya akan terhindar dari kecemasan. Orang seperti ini memiliki harapan sosial dan ketergantungan yang tinggi.
f. Sinis
Perilaku sinis muncul, dari ketidak berdayaan iidividu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidak berdayaan ini membuat dirinya khawatir dan penilaian, orang lain terhadap dirinya, dan perilaku sinis merupakan perilaku menghindar dari penilaian orang lain.
Semua perilaku mekanisme pertahanan diri mempunyai karakteristik; 1).menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan, 2). Dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku ini dipelajari, yang cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan memecahkan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
Berikut ini disajikan deskripsi pencapaian murid dalam tiap aspek tugas perkembangan :
a. Menanamkan Kebiasaan dan Sikap dalam Beriman dan Bertaqwa terhadap Tuhan YME.
Pada umumnya murid SD telah dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dianut, terutama untuk siswa kelas tinggi (kelas IV, V, VI). Temuan peneliti ini tampaknya memberikan gambaran bahwa upaya pembinaan keagamaan baik di rumah maupun di sekolah, dalam hal melaksanakan ibadah menunjukkan keberhasilan. Selain dirumah penanaman nilai ini juga melalui mata pelajaran agama, juga dilakukan pada saat perayaan keagamaan, ibadah bersama disekolah. Murid SD cendrung belum dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang agama seperti menyontek. Perilaku menghormati kedua orang tua dan orang lain masih kurang. Murid SD lebih mementingkan dirinya sendiri, belum mampu mendahulukan kepentingan orang yang lebih tua. Kebanyakan murid SD belum menunjukkan kebanggaan atas kemampuan dirinya sendiri.
b. Mengembangkan Kata hati, Moral dan Nilai-nilai sebagai Pedoman Perilaku.
Tugas perkembangan ini dimaksud agar murid mengembangkan kontrol moral dari dalam, menghargai aturan moral, dan memulai dengan skala nilai yang rasional.
c. Mengembangkan Keterampilan Dasar Dalam Membaca, Menulis Dan Berhitung (Calistung).
Hakekat tugas perkembangan ini adalah murid belajar mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan menghitung secara memadai agar mampu beradaptasi dengan masyarakat.
d. Mempelajari Keterampilan Fisik Sederhana yang Diperlukan untuk Permainan dan Kehidupan.
Anak usia SD memberikan pengendalian yang lebih besar terhadap badannya dan mampu duduk atau berdiri dalam jangka waktu yang lama, disisi lain kekuatan fisik murid belum matang, dan memerlukan aktivitas.
Murid SD lebih merasa lelah disuruh duduk dalam waktu yang lama, dibandingkan dengan lari-lari, jungkir balik atau naik sepeda. Kegiatan fisik sangat penting untuk menyempurnakan perkembangan keterampilannya, seperti melempar bola, loncat tali, keseimbangan dalam meniti balok kayu.
e. Belajar Bergaul dan Bekerja dalam Kelompok Sebaya.
Pada usia sekolah anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga memasuki dunia teman sebaya. Melalui kelompok sebaya anak belajar memberikan dan menerima dalam kehidupan sosial di antara teman sebaya. Belajar berteman dan bekerja dalam kelompok, dapat mengembangkan kepribadian sosial.
f. Belajar Menjadi Pribadi yang Mandiri.
Hakekat tugas perkembangan ini adalah anak belajar menjadi pribadi yang mandiri, mampu membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan pada saat ini dan masa mendatang secara mandiri tidak tergantung pada orang tua atau orang yang lebih tua.
g. Membangun Sikap Hidup yang Sehat Megenai Diri Sendiri dan Lingkungan.
Tugas perkembangan ini berkenaan dengan kebiasaan dalam memelihara badan, kebersihan dan keamanan, memelihara kesehata, sikap realistis yang mencakup, perasaan memiliki fisik yang normal dan memadai, kemampuan menyenangi dalam menggunakan badannya, dan memiliki keutuhan sikap terhadap jenis kelamin. Kebersihan dalam mencapai tugas-tugas perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya keseimbangan kepribadian. Kebiasaan hidup sehat hendaknya dilakukan secara rutin.
h. Mengembangkan Konsep-konsep yang Perlu dalam Kehidupan Sehari-hari.
Hakekat tugas perkembangan ini adalah anak memperolehsejumlah konsep untuk berpikir efektif berkenaan dengan pekerjaan, kewarganegaraan, dan peristiwa-peristiwa sosial. Pada saat anak-anak siap memasuki sekolah, ia sebanarnya telah memiliki perbendaharaan beberapa ratus konsep-terutama konsep-konsep yang sederhana seperti ; bentuk lingkaran, rasa, warna, binatang, makanan, marah, dan cinta.
i. Belajar Menjalankan Peran Sosial Sesuai dengan Jenis Kelamin.
Murid SD hendaknya belajar berperan sebagai pria atau wanita sesuai dengan jenis kelaminnya sebagaimana yang diharapkan. Sebetulnya secara biologis perbedaan anatomi antara pria dan wanita tidak menuntut perbedaan peran jenis kelamin selama murid sekolah dasar. Postur tubuh anak wanita sebagaimana anak laki-laki tumbuh dengan baik melalui aktivitas fisik sehingga menjadi kuat dan besar. Baru pada usia sembilan atau sepuluh tahun, terdapat perbedaan anatomi antara anak laki-laki dengan murid wanita.
j. Memilki Sikap Positif terhadap Kelompok dan Lembaga-lembaga Sosial.
Kemampuan murid untuk mengembangkan sikap positif terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial, merupakan dasar untuk pengembangan sikap demokrasi. Tugas perkembangan ini dipelajari murid sejak di rumah, melalui teman sebaya, dalam kehidupan di masyarakat, dan di sekolah.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik dengan perkembangan murid SD (Sunaryo Kartadinata, 1990, 1996) adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan Fisik dan Kesehatan
Berdasarkan hasil pengamatan guru, terungkap bahwa gangguan perkembangan fisik dan kesehatan di kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3) berupa ; sangat lamban dalam bereaksi, gangguan pertumbuhan gigi, perkembangna fisik tidak sesuai dengan usia, dan lebih besar dari teman sebaya. Sementara itu pada kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6) terungkap bahwa gangguan perkembangan fisik dan kesehatan berupa ; sangat lamban dalam bereaksi, persoalan gizi, pertumbuhan fisik tidak sesuai dengan usia, dan lebih kecil dari teman sebaya.
2. Perkembangan Diri
Karakteristik yang lemah pada konsep diri murid SD tampak lebih berkaitan dengan kemampuan dan menerima diri sendiri. Kesadaran identitas diri masih banyak didominasi oleh perintah-perintah eksternal. Walaupun demikian kesadaran akan identitas jenis kelamin mulai berkembang terutama pada murid-murid kelas tinggi.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan hubungan sosial murid SD telah menunjukkan kecenderungan orientasi kelompok yang cukup kuat. Hubungan sosial murid masih berada pada intensitas yang lemah. Murid SD telah menunjukkan sikap loyal dan kesediaan berkorban untuk kelompok. Dalam kaitannya dengan interaksi kelompok ini, perkembangan etika murid-murid SD masih cenderung dikuasai oleh faktor-faktor eksternal.
4. Teknik Membantu Murid Bermasalah
Upaya membantu peserta didik mengatasi perilaku bermasalah dan menggantinya dengan perilaku yang efektif menghendaki keterampilan khusus dari guru. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk memperoleh lingkungan belajar yang sehat :
a. Memanfaatkan pengajaran kelas sebagai wahana untuk bimbingan kelompok. Dalam hai ini guru dapat bekerja sama dengan konselor sekolah jika di sekolah tersebut telah ada konselor (guru pembimbing).
b. Memanfaatkan pendekatan-pendekatan kelompok dalam melakukan bimbingan.
c. Mengadakan konferensi kasus dengan melibatkan para guru dan/ atau orang tua murid. Konferensi kasus ini dimaksudkan untuk menemukan alternatif pemecahan bagi kasus.
d. Menjadikan segi kesehantan mental sebagai salah satu segi evaluasi. Evaluasi sekolah seyogyanya tidak hanya menekankan kepada segi hasil belajar tetapi juga perlu memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik. Walaupun hasil evaluasi kepribadian itu tidak dijadikan faktor penentu keberhasilan peserta didik.
e. Memasukkan aspek-aspek hubungan insaniah ke dalam kurikulum sebagai terpadu dari bahan ajaran yang harus di sajikan guru.
f. Menaruh kepedulian khusus terhadap fakto-faktor psikologis yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran.
Imunisasi
Bahaya IMUNISASI!
Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari dokter, media masa, brosur di klinik, atau teman-teman Anda. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meniliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah diinformasikan oleh dokter)? Baiklah, mari kita ikuti lebih lanjut…
Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar. Benarkah?
Tiga Mitos Menyesatkan
Vaksin begitu dipercaya sebagai pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan.
effektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit.
Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak
Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Racun dan Najis? Tak Masuk Akal
Apa saja racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya. Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league)
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ….. (Immunisation:The Reality behind the Myth)
Makhluk Mulia Vs Hewan
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.
Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, kesehatannya akan tetap terjaga dari serangan virus, bakteri, dan kuman penyakit lainnya. Sedangkan orang-orang kafir, mengangap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah, sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistemn pertahanan tubuh melalui imunisasai yang tercampur najis dan penuh dengan bahaya.
Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan. Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan hewan tingkat rendah. Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan, demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menggelikan”. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa apa yang dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi, sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Logika setan ini adalah menjijikkan menurut Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada kesehatan. Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Nah, dengan paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk memberikan imunisasi pada anaknya?
~
Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari dokter, media masa, brosur di klinik, atau teman-teman Anda. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meniliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah diinformasikan oleh dokter)? Baiklah, mari kita ikuti lebih lanjut…
Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar. Benarkah?
Tiga Mitos Menyesatkan
Vaksin begitu dipercaya sebagai pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan.
effektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit.
Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak
Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Racun dan Najis? Tak Masuk Akal
Apa saja racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya. Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league)
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ….. (Immunisation:The Reality behind the Myth)
Makhluk Mulia Vs Hewan
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.
Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, kesehatannya akan tetap terjaga dari serangan virus, bakteri, dan kuman penyakit lainnya. Sedangkan orang-orang kafir, mengangap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah, sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistemn pertahanan tubuh melalui imunisasai yang tercampur najis dan penuh dengan bahaya.
Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan. Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan hewan tingkat rendah. Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan, demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menggelikan”. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa apa yang dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi, sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Logika setan ini adalah menjijikkan menurut Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada kesehatan. Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Nah, dengan paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk memberikan imunisasi pada anaknya?
~
Langganan:
Postingan (Atom)